BMW E12 520

BMW E12 520

BMW E12 adalah eksecutive sedan yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1971 dan produksinya dihentikan pada tahun 1981 di Jerman Barat. Mobil ini merupakan pengembangan dari BMW Neue Klasse Sedan (New Class Sedan) yang merupakan cikal bakal BMW seri 5 pertama. Di seluruh dunia, semua BMW E12 hanya tersedia dalam bentuk sedan 4 pintu dengan transmisi manual dengan pilihan mesin 4 silinder M10 dan 6 silinder M20. Khusus untuk pasar Amerika Serikat dan Jepang tersedia pilihan transmisi otomatis 3 percepatan.


Mobil ini didesain oleh Paul Bracq yang juga mendesain berbagai macam Citroën, Peugeot, BMW dan Mercedes-Benz. Desain asli dari BMW E12 ini mengambil desain dari mobil konsep BMW 2200ti Garmisch yang dipajang di Geneva Motor Show tahun 1970. BMW 2200ti Garmisch ini didesain oleh Gruppo Bertone yang berkebangsaan Italia. Pada tahun 1976, BMW E12 ini mengalami facelift berupa lampu belakang lebih lebar, kap mesin mengembung, sampai posisi ventilasi udara yang disempurnakan. Desain facelift ini dibuat oleh Claus Luthe yang kelak menjadi kepala departemen desain BMW sampai tahun 1990an.

Pada tahun 1975 BMW merencanakan perakitan BMW E12 model 520 dan 525 di Malaysia dan Indonesia yang diproduksi mulai pertengahan tahun 1976. Namun karena berbagai hal, hanya BMW 520 yang dirakit di Indonesia. Bisa dibilang, BMW 520 ini masuk secara CKD (Completely Knocked down) ke Indonesia karena pada saat itu terdapat peraturan larangan impor kendaraan secara CBU (Completely Built unit) di Indonesia. Kit CKD mobil ini diimpor dari Munich, Jerman Barat dan menggunakan beberapa komponen lokal buatan Indonesia seperti ban, aki dan cat. Gaya Motor merakit BMW 520 sampai tahun 1971 dengan total produksi sekitar 780 unit.

Pada konsep awalnya, BMW E12 ini hanya akan memakai mesin M10 4 silinder seperti yang dipakai oleh BMW New Class Sedan. Namun karena adanya keinginan pasar, tersedia juga pilihan mesin 6 silinder M20. Karena sistem pajak kendaraan di Indonesia yang kurang berpihak kepada mesin berkapasitas diatas 2000cc, Indonesia hanya mendapat jatah mesin 4 silinder M10. Mesin yang dipakai BMW 520 ini adalah BMW M10 4 silinder SOHC 8 valve berkapasitas 2000cc. Untuk suplai bahan bakar kedalam ruang bakarnya, digunakan sebuah karburator. Tenaga mesin ini disalurkan ke roda belakang melalui transmisi manual 4 percepatan. Mesin M10 ini juga digunakan sampai tahun 1988 walau kapasitasnya diturunkan menjadi 1800cc dan terpasang pada BMW E30 318 atau yang biasa dikenal sebagai BMW Mas Boy karena digunakan untuk properti film Catatan si Boy.

Harga baru BMW Seri 5 saat itu adalah sekitar 17 juta Rupiah. Saat itu, harga mobil ini lebih mahal dibanding Volvo 264 GL tapi jauh lebih murah daripada Mercedes W123 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mercy Tiger yang menjadi pesaing berat BMW seri 5 ini. Secara umum, tidak ada perbedaan antara BMW 520 yang dijual di Jerman dengan yang dirakit di Indonesia. Fitur-fitur elektronik seperti power window dan electric mirror memang belum ada pada sedan seberat 1310Kg ini. Untuk keselamatan, sudah tersedia rem cakram pada mobil ini.

Kini populasi BMW E12 ini sudah semakin langka dan jarang ditemui. Ini dikarenakan total produksinya di Indonesia yang sudah sangat sedikit. Belum lagi dikurangi ratusan unit yang sudah berakhir di kampakan. Berbeda jauh dengan Mercy Tiger yang populasinya lebih banyak dan masih bisa ditemui dijalanan umum. Ini mungkin juga dikarenakan sedikit orang yang tau akan keeradaan mobil ini. Padahal bicara perawatan, mobil ini masih lumayan mudah berhubung mesinnya masih dipakai sampai jaman BMW E30 dan masih memakai karburator dengan minim fitur elektronik yang kadang malah menimbulkan berbagai masalah kala rusak.

Spesifikasi BMW E12 520 ini adalah sebagai berikut:

Spesifikasi BMW E12 520
Jenis Sedan
Tipe E12
Mesin M17 SOHC 1990cc
Bore X Stroke 89.0 X 80.0 mm
Sistem Bahan Bakar Karburator
Transmisi Manual 4 Speed
Wheelbase 2.636 mm
Panjang 3.810 mm
Lebar 1.630 mm
Tinggi 1.340 mm

2 Responses to "BMW E12 520"

  1. Wah ini mah langka banget..e28 aja udah jarang apalagi ini. Tapi sekalinya ada yg sehat, gk main main harganya

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup. padahal era 90an harganya bisa semurah motor bebek low end baru padahal

      Delete