Sejarah Perkembangan Oplet di Jakarta

Terminal Oplet. foto:kompas/pat hendranto

Oplet merupakan salah satu moda transportasi darat yang cukup populer di Indonesia. Pada era 60an dan 70an, Oplet mencapai masa jayanya karena menjadi kendaraan umum paling populer di Jakarta sementara transportasi berbasis bis masih jarang. Konon kata Oplet ini berasal dari gabungan Opel Let atau Opel kecil walau ada juga yang mengatakan nama Oplet berasal dari nama Chevrolet sampai auto let.



Ciri khas dari Oplet adalah posisi duduk "adu dengkul" dibelakang supir dimana pintu masuknya berada dibagian belakang dan mampu mengangkut kurang lebih 10 orang. Posisi paling nyaman dari Oplet ini mungkin ada dibagian depan dimana penumpang duduk disebelah supir yang tentunya rasanya sama seperti naik mobil pribadi. Sebagai angkutan jaman dulu, rata-rata mobil yang dipakai merupakan mobil tua keluaran 40an sampai 60an. Bodi kendaraan rata-rata terbuat dari kayu sesuai dengan perkembangan industri karoseri lokal saat itu. Lampu sein yang dipakai masih mencirikan mobil yang dibuat tepat setelah perang dunia kedua dimana pada saat itu untuk lampu sein digunakan model semafor (semaphore sign) atau flip up di bagian belakang pintu pengemudi.


Mobil yang digunakan untuk armada Oplet sebenarnya cukup bervariasi. Merk-merk seperti Fiat, Ford, Morris, Chevrolet sampai Peugeot pernah dipakai menjadi Oplet. Tidak jarang mobil sedan 4 pintu dipotong dan dijadikan Oplet dengan bodi belakang yang terbuat dari kayu agar bisa menarik penumpang. Tidak hanya sedan, mobil bekas perang seperti mobil jip Willys MB juga pernah terlihat menjadi armada Oplet. Pengusaha Oplet saat itu sepertinya lebih menyukai mobil-mobil buatan Austin sehingga banyak Oplet memakai mobil Austin. Karena inilah Oplet memiliki nama lain berupa Ostin yang asal katanya berasal dari nama Austin.

Salah satu dari sekian mobil yang dijadikan oplet, mungkin kebanyakan orang Indonesia akan lebih familiar dengan Morris Minor Traveler Series II. Morris Minor dengan model Traveler model kedua ini terkenal karena sinetron "Si Doel Anak Sekolahan" dimana disinetron yang diperankan oleh Rano Karno tadi, mobil ini digunakan sebagai properti mobil Oplet keluarga Doel. Sama seperti mobil Inggris lainnya dimasanya, Austin juga membuat Minor versi mereka sendiri. Tampang Morris Minor ini khas mobil desain 50an karena memang mobil ini diproduksi antara 1952 sampai 1956. Bagian belakangnya memakai bodi yang terbuat dari kayu dimana kayu yang digunakan biasanya berupa kayu jati.

Oplet mogok. foto:kompas/pat hendranto


Pada masa jayanya, kurang lebih ada sekitar 4911 unit Oplet yang beroperasi di Jakarta. Selain Jakarta, dikota lain di wilayah Indonesia juga terdapat Oplet seperti misalnya di Pekanbaru sekitar 300 unit dan Tanjungkarang (Lampung) sekitar 740 unit. Oplet sangat digemari oleh masyarakat karena tidak seperti bis yang hanya berhenti di halte atau terminal, Oplet bisa berhenti dimana saja untuk menaik turunkan penumpang. Sistem Oplet ini kurang lebih sama seperti Mikrolet dan Angkot jaman sekarang. Oleh karena itu banyak masyarakat di daerah masih sering menyebut angkot dengan nama oplet.
Nasib Oplet ini kemudian berakhir pada tahun 1980 dimana pada waktu itu gubernur DKI Jakarta, Tjokropranolo menghentikan izin Oplet. Sebagai ganti Oplet, disediakan transportasi lain bernama Mikrolet. Tujuan awal mikrolet selain untuk meremajakan sarana transportasi publik di Jakarta pada waktu itu juga untuk mensejahterakan para pengemudi dan pengusaha Oplet. Para pengusaha dan pengemudi oplet ini kemudian diberi janji untuk diprioritaskan dalam memiliki Mikrolet dengan syarat terbukti memiliki Oplet selama lebih dari 3 tahun atau minimal sejak 1977. Sebagai jaminan, pengusaha Oplet diharuskan membayar jaminan sebesar 500 ribu rupiah untuk mendapat kredit investasi kecil dengan jangka waktu pengembalian 3 tahun dan bunga 10,5 persen per tahun. Sayangnya aturan ini tidak berjalan sesuai rencana karena sekitar 75 persen dari 200 Mikrolet yang dioperasikan pada awal penghapusan Oplet ternyata dimiliki orang baru bukan pengusaha Oplet sebelumnya.

0 Response to "Sejarah Perkembangan Oplet di Jakarta"

Post a Comment