40 Tahun Toyota Kijang

Sejarah generasi toyota kijang di Indonesia

Tepat 40 tahun yang lalu, pada tanggal 9 Juni 1977 Toyota Astra Motor mulai menjual BUV (Basic Utility Vehicle) ke Indonesia yang saat itu menjadi pasar otomotif terbesar se ASEAN. BUV yang semakin lama berkembang menjadi mobil betulan ini sempat menjadi primadona dan lambang keluarga sejahtera di Indonesia pada dasawarsa 90an. BUV ini oleh orang Indonesia dikenal dengan nama Toyota Kijang.


Sejarah awalnya Toyota Kijang ini bisa dibilang berasal dari Filipina. Sekitar tahun 1972, presiden Filipina saat itu, Ferdinand Marcos mengeluarkan semacam kebijakan untuk membuat kendaraan utilitas sederhana (BUV) untuk meningkatkan modernisasi kendaraan di Filipina sana. Pada waktu itu Volkswagen menjadi yang pertama untuk mengikuti kebijakan ini dengan menghadirkan VW Sakbayan. Toyota yang mulai sukses dengan Corolla kemudian ikut dalam pembuatan BUV yang diberi kode designasi F ini. Prototype mobil yang kelak akan dipanggil Tamaraw ini dipamerkan pada tahun 1975 di Filipina serta di Jakarta Fair 1975. Prototype mobil ini begitu sederhana dengan jendela dari terpal mirip tenda warung kaki lima sampai engsel pintu rumah. Konon desain konsep BUV Toyota ini kemudian di koreksi oleh Mahasiswa asal Indonesia dan kemudian diberi nama Kijang yang merupakan singkatan dari Kerjasama Indonesia dan Jepang.

Kijang Buaya F10

Generasi pertama Kijang dijual pertama kali pada Jakarta Fair tanggal 9 Juni 1977 dengan harga kurang lebih 1.500.000 rupiah. Kijang saat itu hanya dijual dalam bentuk pickup standard deck saja dengan 1 pilihan mesin yaitu mesin Toyota 3K 1200cc karburator yang sama dengan yang dipakai Toyota Corolla. Sekitar awal 80an, muncul berbagai industri karoseri lokal yang membuat bodi minibus kendaraan yang awalnya berbentuk pikap. Lahir ditengah industrialisasi Indonesia membuat Toyota memproduksi Kijang dengan banyak local content sekaligus agar harga jual Kijang ini lebih murah karena masuk kedalam skema KBNS (kendaraan bermotor niaga sederhana). Menurut Toyota sendiri, Kijang generasi pertama ini memakai sekitar 19% komponen lokal.

Di Filipina, Kijang ini sudah lebih dulu dipasarkan terhitung sejak tanggal 2 Desember 1976 dengan nama Toyota Tamaraw. Tamaraw dalam bahasa Tagalog artinya kerbau. Berbeda dengan Indonesia dimana Kijang lebih difokuskan untuk angkutan barang murah meriah, di Filipina Tamaraw lebih didesain sebagai pengganti Jeepney. Selain Indonesia dan Filipina, mobil ini juga sempat masuk ke Papua Nugini. Versi Papua Nugini ini sebenarnya merupakan Tamaraw yang diimpor kesana dan diberi nama Toyota Traka.

Kijang Doyok / Kotak KF20

Generasi kedua muncul pada tahun 1981 dengan model baru yang lebih menyerupai mobil. Generasi kedua ini dijual di Indonesia dengan kode designasi KF20. Masih sama seperti generasi pertamanya, Kijang hanya dijual oleh Toyota Astra Motor dalam bentuk pickup saja. Bersamaan dengan semakin pesatnya perkembangan industri karoseri lokal, muncul varian-varian Kijang minibus dengan bentuk yang tidak umum. Kijang yang bentuknya sedemikian rupa oleh perusahaan karoseri diubah ada yang menjadi mirip Mercedes-Benz G-Wagen, Daihatsu Taft, Chevrolet Trooper dan sebagainya. Berbeda dengan Indonesia yang hanya ditawarkan dalam 1 pilihan sasis dan mesin, di Filipina mereka juga menjual Tamaraw dengan sasis panjang yang memiliki kode designasi KF30.

Pada tahun 1985 muncul versi facelift edisi perpisahan pada Toyota Kijang ini. Perbedaan paling jelasnya bisa dilihat dari bentuk lampu depan kotak serta grill depan yang lebih sederhana. Jika sebelumnya mesin yang digunakan adalah Toyota 4K 1300cc, kini Kijang sudah dibekali dengan mesin 5K 1500cc yang masih sama-sama memakai transmisi manual 4 percepatan.

Kijang Super / Grand KF40 & KF50

Pada generasi ketiga ini, Kijang tidak lagi didesain untuk diprioritaskan menjadi pickup. Pertama kali muncul tahun 1986 dalam 2 pilihan sasis yaitu pendek KF40 dan panjang KF50 serta 1 pilihan mesin Toyota 5K OHV 1500cc. Bodi untuk versi minibusnya memang masih dikerjakan karoseri lokal hanya saja ada 3 karoseri lokal yang resmi ditunjuk Toyota untuk membuat varian minibus Kiajng ini. 3 perusahaan karoseri yang ditunjuk antara lain NCH (Nusa Cendana Harum), SC (Superior Coach) dan Nasmoco Bodytech. Selain itu masih banyak lagi varian-varian karoseri yang beredar untuk Kijang generasi ini. Pada tahun 1992 muncul facelift Kijang ini dengan teknologi press bodi baru yang dikerjakan oleh Astra Toyota sendiri. Kijang dengan bodi yang dikerjakan oleh Astra sendiri ini diiklankan dengan nama Toyota Original Body. Selain body baru, pada varian ffacelift ini juga muncul pilihan mesin 7K OHV 1800cc pada varian Kijang Grand Extra. Menurut Toyota, Kijang super sudah memakai sebanyak 44% kompnen dalam negeri dan mobil rakitan Indonesia ini diekspor ke 9 negara.

Di Filipina, Tamaraw yang kini memakai font yang sama dengan Kijang untuk emblemnya juga tersedia varian dengan mesin diesel 2C 2000cc. Untuk Kijang rakitan Indonesia, di India mobil ini dijual dengan nama Toyota Qualis dengan mesin 1RZ-E 2000cc dan 2L-II 2400cc diesel sejak tahun 1990. Di Afrika selatan versi pickup dari Kijang diberi nama Toyota Stallion 1500 dan minibus dengan nama Toyota Venture. Di Taiwan dan Vietnam mobil ini dikenal dengan nama Toyota Zace yang dijual sejak tahun 1989. Khusus untuk India, Kijang generasi ketiga ini dijual lagi antara tahun 2000 sampai 2004 dimana body yang digunakan masih berupa Kijang super namun lampu, grill dan aksesori lainnya memakai milik Kijang kapsul. Walau kurang laris karena bentuknya yang jelek bagi orang India, namun mobil ini cukup populer untuk digunakan sebagai taksi pada waktu itu.

Kijang Kapsul / LGX F70 & F80 series

Generasi terakhir dari kijang (alasannya ada dibawah) ini sudah sama seperti mobil sungguhan. Plat bodinya tidak lagi sekedar dipress dengan mesin berkekuatan 1500kg yang membuat lekukan membulat dan rumit pada mobil ini bisa diwujudkan. Di Indonesia, Kijang ini dijual dalam 2 pilihan sasis, 2 pilihan bodi, dan 3 pilihan mesin. Sasis pendek memiliki kode F70 dan sasis panjang F80. Versi Indonesia memiliki 3 pilihan mesin yaitu 7K-E OHV 1800cc injeksi, 1RZ-E 2000cc, dan 2L diesel 2400cc. Varian karoserinya sudah mulai menghilang walau beberapa masih tersedia seperti misalnya Kijang Rover Ace.

Diluar Indonesia, konsep Kijang sebagai basic untility vehicle benar-benar mulai hilang pada generasi ini. Di Filipina, Toyota Filipina tidak lagi memasangkan nama Tamaraw untuk "Tamaraw" ini. Sebagai gantinya, mobil ini dikenal dengan nama Toyota Revo di Filipina. Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura mulai mendapat mobil ini pada tahun 2000 dengan nama Toyota Unser yang memiliki fitur-fitur "mewah" seperti defogger, wiper belakang dan lainnya. Walau nama merakyat mobil ini mulai dibuang diluar Indonesia, namun beberapa negara seperti Taiwan dan Vietnam masih setia memakai nama model sebelumnya walau sedikit diubah menjadi Zace Surf. DI Afrika Selatan, mobil ini juga masih tetap mempertahankan nama Stallion untuk versi pickup dan Condor untuk minibus walau diberi tambahan opsi mesin 3000cc diesel dengan penggerak 4X4.

Generasi Kijang sebagai mobil sederhana berhenti pada tahun 2004. Penerus Kijang ini sebenarnya adalah Toyota Avanza yang dibuat oleh Daihatsu. Di Indonesia, nama Kijang masih tertempel pada platform mobil baru yang sebangun dengan Toyota Hilux dan Fortuner yang diberi nama Toyota Innova. Dilihat dari kode designasinya, Kijang memiliki kode F sementara Innova memiliki kode AN yang ini berarti sudah tidak adalagi hubungan antara Kijang dan Innova.

0 Response to "40 Tahun Toyota Kijang"

Post a Comment