Mobil Murah Buatan Indonesia Jaman Belanda

Rombongan Demmo 1930an

Ford Model T bisa dibilang simbahnya mobil-mobil murah diseluruh dunia. Dengan teknik revolusioner dalam proses produksinya, mobil yang tadinya sangat mahal karena dibuat manual dengan tangan dan prosesnya yang sangat lama bisa dipersingkat dan ditekan harganya. Meski begitu, mobil tetap saja menjadi barang mewah yang tidak semua orang bisa memilikinya. Namun untungnya, pada jaman Belanda dulu di Surabaya pernah ada usaha pembuatan "mobil" murah bernama Demmo yang bisa dibeli masyarakat kebanyakan.


Demmo pertama kali dibuat dan dijual pada tahun 1928 di kota Soerabaia (Surabaya) sebagai kendaraan pengganti kendaraan yang ditarik dengan hewan seperti kuda atau sapi macam dokar, sado atau yang sejenis. Diawal kemunculannya, mobil dengan 4 roda hanya bisa dibeli raja pribumi atau orang eropa kaya saja. Bagi golongan menengah seperti orang Indo (campuran eropa dan pribumi) atau para pedagang dan golongan miskin punya mobil hanyalah sebatas mimpi. Untuk urusan transportasi, kedua golongan ini masih mengandalkan kuda. Sayangnya, dengan pertumbuhan populasi dan karakter kendaraan yang ditarik kuda tidak bisa mengikuti perkembangan jaman membuat kecelakaan antara mobil dengan kereta kuda cukup banyak jumlahnya saat itu. Melihat peluang ini, sebuah perusahaan bernama NV Demmo kemudian membuat sebuah "mobil" murah pengganti kereta kuda.

Didesain sebagai "mobil" murah, konstruksi Demmo cukup sederhana. Prinsip kendaraan ini sama seperti kereta kuda dimana penarik (mesin) berada didepan yang membuatnya berpenggerak roda depan. Mesin Demmo ditempel diatas roda dimana untuk menggerakan roda depannya digunakan rantai. Tangki bahan bakar Demmo juga berada tepat diatas mesin yang menempel dengan stang kemudi yang persis seperti stang motor. Entah seperti apa spesifikasi mesinnya, tapi yang jelas Demmo memakai mesin bensin 2 tak dan didatangkan dari Amerika Serikat.

Kendaraan ini karena harganya murah maka cukup populer dipakai sebagai angkutan umum. Iklan di brosur Demmo tertulis "Er zijn slechts 5 Demmos noodig voor een inkomen van f 500 per maand" yang kurang lebih berarti cukup 5 unit Demmo untuk mendapat penghasilan 500 gulden per bulan. Tak hanya dijual di Surabaya, Demmo juga dijual dibeberapa kota lain seperti Malang, Jogja, Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Palembang, Medan, Makasar, dan Banjarmasin.

Karena semakin populernya Demmo, NV Demmo kemudian memindahkan pabriknya ke jalan Darmokali no. 7 Surabaya pada tanggal 11 Juni 1932 yang memiliki kapasitas produksi lebih besar. Untuk memenuhi kebutuhan akan buruh, NV Demmo juga mendatangkan banyak pemuda India karena kekurangan buruh lokal di Surabaya saat itu. Sekitar akhir 1930an, mesin Demmo yang berisik mendapat protes dari masyarakat. Demmo kemudian mengganti mesin kendaraannya ke mesin 2 tak buatan Merkur asal Jerman setelah sebelumnya sempat akan menggunakan mesin buatan Ford.

Kendaraan Atax

Pesaing dari Demmo ini adalah Atax yang juga berasal dari Surabaya. Perbedaan paling mencolok dari Demmo ada pada konstruksinya dimana Atax terlihat lebih seperti motor roda 3 jaman sekarang karena mesinnya berada dibawah dengan penggerak roda belakang dengan rantai. Mesin Atax ini merupakan buatan Raleigh asal Inggris.

Nasib Demmo dan Atax berakhir sekitar 1942 ketika Jepang datang. Pabrik Demmo dan Atax dirampas pasukan Jepang untuk digunakan sebagai pabrik kendaraan militer. Bersamaan dengan itu, daya beli masyarakat turun drastis karena kondisi politik dan ekonomi yang hancur karena perang dunia kedua. Bekas pabrik Demmo kini berubah menjadi pemukiman penduduk. Pasca kemerdekaan, tidak ada lagi kelanjutan dari Demmo dan Atax ini.

referensi :
- Kuncarsono Prasetyo, SAWOONG Soerabaia Poenja Gaia
- KumparanOto

2 Responses to "Mobil Murah Buatan Indonesia Jaman Belanda"

  1. hebat ya .. sangking penasarannya saya cari digoogle ga ada loh ..
    udah lama saya ngikutin mobilmotorlama.com,, karna artikelnya menarik sejarah mobil dan motornya lengkap ..
    semangat terus mas Charis Alfan

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, makasih... jadi malu, saya cuma mengolah dari sumber yg ada saja kok (pengalaman, buku, sama omongan orang yg udah tua)

      Delete