Cagiva Stella 115 & 125

Cagiva Stella 115 & 125

Awal milenia ketiga merupakan sebuah tonggak sejarah baru didunia otomotif Indonesia. Bagaimana tidak, setelah sebelumnya dikekang dengan peraturan yang tidak memperbolehan CBU kemudian pada tahun 1999 impor kendaraan secara CBU diperbolehkan. Akibatnya, ada banyak sekali jenis mobil maupun motor yang hadir di Indonesia pada periode ini. Salah satu motor unik yang hadir pada masa ini adalah Cagiva Stella 115 dan 125.


Meskipun Cagiva merupada merk Italia dan motor bebek populer di Asia Tenggara, namun motor ini kurang lebih merupakan motor rancangan Asia yang dikerjakan oleh divisi Asia Cagiva. Desainnya berupa motor bebek ayam jago macam Suzuki Satria F yang saat itu memang sangat populer di Thailand tempat asal motor ini dibuat. Ciri khas desainnya terletak pada bagian tengahnya yang membesar dibagian bawah jok juga lampu sein model terpisah macam motor sport.

Sesuai dengan namanya, motor ini tersedia dalam pilihan mesin 115cc dan 125cc yang mana keduanya sama-sama memiliki konfigurasi 2 tak 1 silinder pendingin air dengan transmisi manual 6 percepatan. Dengan karburator  Dell'Orto berukuran 26mm, mesin ini sanggup menghasilkan tenaga sebesar 23,8Hp pada 10.300Rpm untuk versi 115cc. Versi 125cc nya tidak kalah gahar dimana mesin yang sama pernah dipakai Valentino Rossi diawal karirnya pada GP125 mampu menghasilkan tenaga hingga 33Hp pada 12.000Rpm. Dengan berat hanya 110Kg dan ukuran ban 70/90 R17 depan dan 80/90 R17 belakang tentu membuat motor ini sangat ganas tenaganya.

Motor ini dijual di tanah air melalui Oke Junjunan, mantan crosser nasional yang saat itu menjual Cagiva Indonesia di Bandung yang kemudian pindah ke Jl. Fatmawati Jakarta Selatan. Dengan potensi untuk menjadi motor balap yang besar, tidak heran kalau kemudian motor ini cukup sering menang diajang road race pada jamannya bersaing dengan motor bebek eksotis seperti Suzuki RG-Sport, Honda Tena dan Yamaha F1ZR. Tercatat, nama-nama seperti Ade Taruna dengan tim CMS Interbiru, Rafid "Poppy" Sugiarto dan Bima Aditya Rahmana dari tim Star Motor, serta M. Khadafi  dari Malahayati racing memenangkan lomba dengan Cagiva Stella.

Fitur yang tersedia pada motor ini juga cukup lengkap pada jamannya. Rem depan dan belakangnya sudah menganut model cakram berongga, radiator berkapasitas 350ml, dan shockbreaker model teleskoptik ala motor sport yang cukup nyaman menjadi fitur unggulannya. Meski begitu, ada fitur yang tidak tersedia pada motor ini seperti misalnya speedometernya belum tersedia tachometer. Yang unik dari speedometer motor ini adalah indikator suhu mesin dan bensinnya menjadi 1 sehingga untuk mengubah modenya bisa dilakukan dengan cara menekan tombol pada panel sebelah kanan.

Dulu pada awal masuknya motor ini pada tahun 2001, motor ini dijual dengan harga 20 juta rupiah untuk varian 115cc dan 22 juta rupiah untuk varian 125cc. Cukup mahal karena pada waktu itu motor semacam Honda Tiger yang cukup mahal bagi orang Indonesia kebanyakan saat itu harganya hanya 14 juta rupiah saja. Tidak heran kalau kemudian populasi motor ini cukup jarang di Indonesia. Juga karena penjualannya hanya dilakukan diwilayah Jakarta dan Bandung membuat sparepart motor ini cukup langka dan mahal. Kini harga motor ini cukup gelap dan sudah menjadi motor hobi atau koleksi yang cukup berharga.

Spesifikasi Cagiva Stella 115 & 125 ini adalah sebagai berikut:

Spesifikasi Cagiva Stella 115 & 125
Jenis Underbone
Sport
Tipe Stella
Mesin 1 silinder 50° 2 tak 115,9cc
1 silinder 50° 2 tak 124,63cc
Bore X Stroke 54.0 X 50.9 mm (115cc)
56.0 X 56.6 mm (125cc)
Sistem Bahan Bakar Karburator
Transmisi Manual 6 Speed
Wheelbase N/A
Panjang N/A
Lebar N/A
Tinggi N/A

2 Responses to "Cagiva Stella 115 & 125"

  1. Om...brt ga ada downspek ya untuk 125cc??? Menggunakan spek mesin gp 125 cc???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mohon koreksinya karena saya kurang yakin berhubung dibrosurnya yang tertulis dengan bahasa Thailand, ada 2 versi dari Stella 125 yang satu karbu 24mm yang satu 26mm dan tenaganya tidak ditulis angka melainkan huruf Thailand lagi. Yang aneh rasio kompresi Stella 125 lebih besar dibanding Mito 125 (8,2:1 vs 7,1:1)

      Delete