Daihatsu Charade "Bakpao" G100
Mobil sedan hatchback memang tidak terlalu bergengsi seperti sedan saloon 4 pintu dan dianggap sebagai mobilnya wanita. Namun begitu, untuk penggunaan dalam kota mobil seperti ini memang juaranya. Daihatsu yang sudah memasarkan mobil hatchback kecil sejak 1979 tidak berdiam diri apalagi sejak pertengahan 1980an sudah muncul berbagai pesaing seperti misalnya Toyota Starlet dan Suzuki Forsa. Oleh karena itu PT Astra Daihatsu kemudian memperkenalkan generasi baru Daihatsu Charade yang dikenal sebagai Charade Bakpao pada tahun 1987.
Desain eksterior Daihatsu Charade ini membulat meninggalkan desain serba kotak Daihatsu Charade CS generasi sebelumnya. Dengan bentuk membulat ini, orang-orang kemudian memberi julukan mobil ini sebagai Charade kapsul atau juga Charade bakpao. Yang unik dari Daihatsu Charade bakpao yang memiliki kode bodi G100 ini adalah fender depan yang seakan-akan sudah menerapkan model wide body. Sementara itu bagian belakangnya rata sedikit menyembunyikan roda belakang yang mana desain ini terkesan aerodinamis dan sangat populer di mobil-mobil era 30an sampai 50an awal dimana ketika itu pabrikan mobil begitu terobsesi dengan aerodinamika sebuah mobil.
Charade juga dibuat menjadi mobil yang semakin nyaman pada generasi ini. Sasisnya masih monokok namun kini dengan suspensi model independen macpherson strut di keempat rodanya. Dibagian depan mendapat tambahan berupa stabilizer yang membuat handlingnya semakin presisi. Untuk pengereman, bagian depan sudah menggunakan cakram sementara rem belakang masih menggunakan teromol. Tentunya Daihatsu Charade sudah menggunakan booster untuk mempermudah pengoperasian rem tidak seperti mobil jip yang pada jaman itu masih belum jamak memakai booster.
Charade CX
Model awal dari Daihatsu Charade generasi ketiga ini hadir di Indonesia pada akhir 1987 dengan 1 tipe saja yaitu CX. Oleh karena itu mobil ini dikenal juga sebagai Daihatsu Charade CX. CX sendiri merupakan tipe tengah dari lini Daihatsu Charade dengan model bodi hatchback 5 pintu di Jepang.
Pada awalnya, Daihatsu secara kasar hanya mengganti model Charade saja tanpa menambah fitur-fitur yang ternayta semakin dicari oleh konsumen. Daihatsu Charade keluaran awal hanya punya jam digital dan radio tanpa tape untuk hiburan. Varian awal ini bisa dilihat interiornya berwarna kebiruan. Namun begitu, setidaknya Daihatsu sudah memberikan takometer pada konsol meternya.
Mesinny sendiri juga masih sama seperti pendahulunya dengan mesin Daihatsu CB23 yang memiliki konfigurasi 3 silinder OHC 6 valve berkapasitas 1000cc. Mesin bensin dengan pengabut bahan bakar karburator dan pengapian platina ini sanggup menghasilkan tenaga sebesar 52Hp pada 5600Rpm dan torsi 75Nm pada 3200Rpm. Untuk menggerakkan roda depannya, digunakan transmisi manual 5 percepatan.
Sekitar pertengahan 1988, interiornya berubah warna menjadi hitam keabuan dengan bentuk yang sama bahkan bentuk setir palang 3 dengan tombol klakson menukik turun masih dipertahankan. Secara fitur, masih sama saja dengan model sebelumnya yang serba kosongan hanya saja kini sudah ada AC dari Nippon Denso sebagai opsional.
Dibagian eksterior, Daihatsu Charade CX ini bisa dikenali dari bagian belakangnya. Lampu belakangnya memiliki guratan garis horisontal ala lampu belimbing pada model USDM beberapa mobil. Model awal tidak memiliki garnish sehingga pada bagian antara lampu belakang hanyalah polos sewarna dengan bodi. Sekitar 1989 terdapat tambahan garnish yang berwarna hitam.
Charade CX 1300
Memasuki tahun 1991, segmen hatchback ini semakin ramai dengan berbagai pendatang seperti Fiat Uno yang membuat penjualan Charade yang saat itu masih hanya tersedia mesin 1000cc 3 silinder semakin terpuruk. Daihatsu kemudian memeprkenalkan Daihatsu Charade CX dengan mesin 1300cc 4 silinder. Mesin yang dipakai adalah Daihatsu HC dengan konfigurasi 4 silinder SOHC 16 valve berkapasitas 1300cc dan pemasok bahan bakar karburator. Mesin ini sanggup menghasilkan tenaga sebesar 76Hp pada 6500Rpm dan torsi 105Nm pada 4000Rpm. Untuk menggerakkan roda depan, digunakan transmisi manual 5 percepatan.
Dibagian eksterior, Charade mendapat sedikit ubahan untuk membedakannya dengan Charade CX 1000cc. Paling jelas perbedaannya ada di bumper belakang dimana Charade CX 1300cc ini memiliki towing hook satu saja disebelah kiri tidak seperti Charade CX 1000cc yang jumlahnya ada 2. Lampu belakang masih sama dengan model bergaris namun kini sudah ada tambahan garnish yang membuat seakan-akan lampu belakangnya menyatu antara sebelah kiri dan kanan. Pada garnish terdapat tulisan CHARADE yang posisinya sedikit keatas karena garnisnya menekuk agak ketengah bawah. Sisanya, masih sama persis dengan Charade CX 1000cc.
Charade Winner 1300
Ternyata mesin baru ini masih belum sepenuhnya mendongkrak pamor Daihatsu Charade dipasar mobil hatchback mungil di Indonesia. Akhirnya, sekitar 1991 bersamaan dengan munculnya varian sedan 4 pintu dari Daihatsu Charade bakpao yang dikenal dengan nama Daihatsu Classy, Daihatsu memperkenalkan model facelift yang diberi nama Daihatsu Charade Winner.
Dibagian mesinnya, masih sama seperti Daihatsu Charade CX 1300. Oleh karena itu kadang orang menyebut Daihatsu Charade CX dengan mesin 1300cc sebagai Charade CX Winner karena sebagai peralihan antar keduanya. Tipe Daihatsu Charade Winner ini sendiri masih tetap CX namun nama Winner lebih ditonjolkan pada material promosinya. Karenanya dibagian belakang masih terdapat stiker bertuliskan CX namun disebelahnya terdapat tambahan 1.3 dan di sisi kanan terdapat stiker Daihatsu 16 valve.
Dibagian luar, perbedaan paling mencolok ada pada grill depan yang palangnya tinggal 1 saja dengan logo bertuliskan Daihatsu emboss timbul tidak lagi rata serta tambahan badge 16 valve disisi kiri. Lampu belakangnya kini polos dengan kluster yang sama serta garnish belakang yang kini rata mengikuti permukaan lampu belakang. Dari luar juga terlihat adanya tambahan aksesori berupa wiper belakang dan spoiler belakang kecil. Tambahan lain, ada mud guard hitam di setiap roda.
Bagian paling berbeda untuk Charade Winner ini adalah fiturnya. Kali ini Daihatsu tidak sekedar setengah-setengah lagi dalam memberikan fitur kepada konsumennya. Sebut saja AC, power window, power steering, electric mirror, central lock, radio dengan tape, speaker Dolby stereo, sampai AC Nippon Denso sudah menjadi standar untuk Daihatsu Charade.
Meskipun bentuknya lucu dan punya julukan bakpao, namun Daihatsu Charade ini memiliki prestasi gemilang di ajang balap. Di luar negeri, prestasi Charade paling bagus adalah menjuarai reli Afrika Timur 1990 di Kenya yang terkenal sebagai reli penghancur mobil. Dalam klasmen overall, 2 unit Daihatsu Charade berhasil masuk posisi 10 besar bersanding dengan nama seperti Lancia Delta, Mitsubishi Galant VR4, Toyota Celica dan lainnya dan menjadi juara di kelasnya berhubung peserta lainnya tidak bisa mencapai finish. Di skena balap lokal, Charade Winner cukup menjadi jagoan di ajang drag race dimana modifikasi umum adalah mengganti blok mesin Daihatsu Feroza 1600cc.
Di Indonesia, Charade hatchback hanya dipasarkan sampai sekitar 1994 saja. Hal ini dikarenakan pasar mobil hatchback yang kurang bagus saat itu dimana mobil hatchback kalah gengsi dibanding sedan saloon 4 pintu dan hanya dianggap mobilnya wanita. Versi sedan 4 pintu dari Charade bernama Daihatsu Classy nasibnya lebih baik karena dipasarkan sampai 1998. Setelah dihentikannya penjualan Charade Classy, Charade di Indonesia sudah tidak dilanjutkan lagi. Keturunan Charade baru kembali ke Indonesia pada tahun 2007 dengan Daihatsu Sirion yang merupakan penerus dari Charade G200 dan Daihatsu Storia dimana Sirion ini merupakan mobil pengembangan Perodua.
Kelebihan Daihatsu Charade CX dan Winner ini adalah mesinnya yang sama seperti angkot Daihatsu Hijet dan Daihatsu Zebra. Ini membuat mesinnya terasa sangat bertenaga ketika dipasangkan di Charade yang beratnya hanya 800Kg. Mesin ini juga irit bahan bakar dan sparepartnya cukup banyak tersedia. Dengan suspensi independen di keempat roda meskipun konstruksinya hanya macpherson strut, kenyamanannya cukup bagus dengan handling yang tidak kalah baiknya. Meski Charade CX terasa kosongan, Charade Winner terasa sangat plush dengan berbagai aksesori dan fitur yang tersedia.
Kelemahan Daihatsu Charade ini adalah layoutnya yang mesin depan transversal yang berbeda total dengan angkot Hijet dan Zebra. Ini berakibat pada komponen transmisi dan semacamnya lebih sulit dan mahal dibanding mesin yang sama di Hijet dan Zebra. Kemudian meski canggih dengan mesin 16 valve, namun mesin HC ini masih memakai platina dan timing belt yang membuatnya sering salah urus mengingat Charade di pasaran biasanya lebih murah daripada pesaingnya yang membuat unit yang masih bagus cukup jarang ditemui.
Spesifikasi Daihatsu Charade CX & Winner G100 ini adalah sebagai berikut:| Spesifikasi Daihatsu Charade CX & Winner G100 | |
|---|---|
| Jenis | Hatchback |
| Tipe | G100 |
| Mesin | CB23 SOHC 1000cc 3 silinder HC-C SOHC 1300cc 4 silinder |
| Bore X Stroke | 76.0 X 73.0 mm (CB23) 76.0 X 71.4 mm (HC-C) |
| Sistem Bahan Bakar | Karburator |
| Transmisi | Manual 5 Speed |
| Wheelbase | 2.339,3 mm |
| Panjang | 3.680,5 mm |
| Lebar | 1.615,4 mm |
| Tinggi | 1.384,3 mm |


sip, sangat membantu untk pemula yg mau beli
ReplyDeleteYang mobil bekas Charade winner-nya nggak diulas sekalian bro?
ReplyDeleteLha... Ceret G10 th 81 lebih mantap tuh...
ReplyDelete