DKW RT125
Sejak akhir 1920an, DKW sudah menjadi pabrikan sepeda motor terbesar di dunia. Salah satu produk yang paling populer adalah sepeda motor bermesin kecil yang irit dan mudah dikendarai. Pada tahun 1939, DKW memperbarui lini motor kecilnya dengan menghadirkan RT125 dimana RT merupakan singkatan dari Reichstyp atau kurang lebih maknanya tipe kekaisaran dalam bahasa Indonesia.
Desain DKW RT125 ini sangat kental nuansa era 1930an. Bentuknya masih mirip sepeda namun lebih pendek dan panjang dengan jok tunggal yang dilengkapi dengan per, frame belakang tanpa shock absorber dan tangki membulat. Meski lahir pada 1939, namun nantinya DKW RT125 ini dikembangkan terus bahkan sampai tahun 1980an oleh derivatifnya dengan berbagai ubahan yang meski begitu tetap terlihat seperti motor era 1930an.
Pada era 1920 dan 1930an, mesin bensin 2 tak memiliki ciri khas berupa piston dengan tonjolan tinggi yang disebut deflector. Tonjolan ini berfungsi untuk mendorong keluar sisa pembakaran supaya campuran udara, bensin dan oli baru masuk ke ruang bakar menggantikan sisa pembakaran. Sayangnya, desain piston seperti ini membuat mesin lebih berat, kasar, dan tidak bisa berputar pada rpm tinggi yang membuat tenaganya kecil. DKW melalui RT125 ini membuat gebrakan dengan menghilangkan deflector piston ini dan menggantinya dengan sistem yang disebut Schnürle loop-scavenging system. Pada intinya, desain port intake yang dirancang sedemikian rupa sehingga piston tidak perlu memakai deflector untuk siklus pembakarannya.
Mesin DKW RT125 ini kemudian menjadi salah satu yang paling efisien pada zamannya. Mesin 1 silinder 2 tak 125cc pendingin udara yang terpasang mampu menghasilkan tenaga sebesar 4,75Hp pada 5000Rpm. Untuk menyalurkan tenaga mesin ke roda belakang, digunakan transmisi manual 3 percepatan yang dihubungkan dengan rantai. Dengan bobot hanya 73,5Kg, DKW RT125 ini sanggup dipacu hingga kecepatan maksimal 80km/jam.
Derivatif DKW RT125
Seusai perang dunia kedua, ada banyak aset milik Jerman yang diambil oleh negara-negara sekutu sebagai bagian dari biaya ganti rugi perang. Salah satunya adalah pabrik DKW beserta rancang bangun, mesin produksi sampai paten dari DKW RT125 yang dibuat bebas. Oleh karena itu, DKW RT125 ini kemudian dikembangkan lebih lanjut atau sekedar diproduksi ulang oleh negara-negara sekutu menjadi beberapa motor yang berbeda seperti berikut.
BSA Bantam 125
Inggris mendapatkan blueprint dari DKW RT125 sebagai bagian dari kompensasi ganti rugi perang. Cetak biru dari DKW RT125 ini kemudian diserahkan BSA untuk mulai diproduksi. Namun Eropa yang saat itu belum bersatu dan mengenal satu sama lain dengan dekat membuat BSA kemudian memodifikasi ulang rancang bangun DKW RT125 agar sesuai dengan kondisi Inggris. Misalnya tuas kopling DKW RT125 berada di sebelah kanan dipindah ke sebelah kiri seperti motor umumnya jaman sekarang. Untuk membalikkan tuas ini juga tidak sekedar menata ulang kabel namun juga membalik posisi crankcase motor. Selain itu komponen lain juga diganti menjadi buatan Inggris seperti karburator yang aslinya buatan Bing diganti menjadi karburator Amal begitu juga pengapian yang tadinya buatan Bosch menjadi wipac atau Lucas.
Tidak hanya itu, Bosch juga kemudian membuat desain rangkanya sendiri terutama pada bagian suspensi plunger dan swingarm. Untuk melakukan hal itu, rancang bangun DKW RT125 yang ditulis menggunakan unit metrik seperti meter dan liter diganti menjadi unit imperial seperti inch dan gallon yang masih dipakai Inggris saat itu. Ciri khas lain dari motor yang kemudian disebut BSA Bantam 125 ini adalah mulut knalpot fishtail pada model awal dengan kode D1. Kelak BSA juga mengembangkan lebih lanjut Bantam 125 dengan mesin yang lebih besar pada generasi D3 yang menjadi 148cc dan 172cc pada generasi D5/D7 dan gearbox 4 percepatan pada generasi D10 dan D14.
Harley-Davidson Model 125 Hummer
Sama seperti kisah BSA Bantam 125, Amerika yang mendapat rancang bangun DKW RT125 juga melakukan banyak ubahan rancang bangunnya melalui Harley-Davidson yang kemudian menjadi Harley-Davidson Model 125 atau S-125. Ubahan paling utama dari Harley-Davidson S-125 ini adalah penggunaan unit imperial seperti inch pada komponennya, penggunaan karet untuk suspensi depan meninggalkan per dan bentuk tangki khas Harley-Davidson. Harley-Davidson Model 125 ini pertama kali diluncurkan pada 1948 dan menjadi Harley paling kecil saat itu.
Pada tahun 1953, Model 125 dinaikkan kapasitas mesinnya menjadi 165cc. Pada dasawarsa 1950an, motor Jepang yang kecil dan murah mulai masuk ke Amerika dan ternyata cukup laris sehingga membuat pabrikan motor Amerika seperti Harley-Davidson mulai serius dalam mengembangkan segmen ini. Model 165cc ternyata masih belum cukup murah untuk melawan pabrikan Jepang sehingga pada 1955, Model 125 kembali diproduksi tanpa aki, klakson, sein dan lampu belakang. Model 125 baru ini diberi julukan Harley-Davidson Hummer dimana nama Hummer berasal dari nama pemilik dealer Harley-Davidson di Omaha, Nebraska bernama Dean Hummer dimana dealernya menjadi penjual Harley-Davidson Model 125 paling banyak di Amerika. Saking populernya, para penggemar Harley-Davidson menyebut Harley-Davidson 125cc ini sebagai Harley Hummer tidak peduli apakah model awal yang 125cc atau model selanjutnya.
Nantinya, Harley-Davison Hummer dikembangkan lebih lanjut menjadi Super 10 pada 1960 dengan mesin 165cc baru, Ranger yang menjadi motor trail pada 1962, serta Pacer dan Scat yang memakai mesin 175cc dan desain rangka baru. Namun pada tahun 1965, desain yang aslinya berasal dari DKW tahun 1930an sudah tidak mampu melawan motor Jepang sehingga Harley-Davidson menghentikan produksi Hummer dan fokus motor kecilnya dipindah ke Aermacchi yang merupakan pabrikan asal Italia yang baru saja diakuisisi tahun 1960.
MMZ M-1A Moskva / Minks
Tidak seperti Amerika dan Inggris yang mendapat rancang bangun dari DKW RT125, Uni Soviet mendapat jackpot disini dengan mendapatkan pabrik beserta tooling pabrik DKW yang berada di Zschopau. Seperti banyak industri penting Jerman lainnya yang berada di wilayah Jerman Timur yang diduduki Uni Soviet, pabriknya dibongkar dan dipindah ke Soviet Russia beserta mesin-mesin yang ada untuk memajukan industri Uni Soviet termasuk pabrik DKW ini. Pabrik DKW ini dipindahkan ke Moscow dan motor DKW RT125 diproduksi disana sebagai MMZ M-1A atau yang biasa disebut sebagai Moskva.
Pada tahun 1951 berdasarkan instruksi pemerintah komunis, pabrik MMZ yang berada di Moscow difokuskan untuk memproduksi sespan untuk motor-motor Ural yang mana sespan ini nantinya bisa digunakan tentara. Oleh karena itu mesin produksi bekas DKW RT125 ini dipindahkan ke Minsk, Belarusia dan menadi M1NSK atau yang lebih dikenal sebagai Minks.
SHL M04 dan Sokół 125
Tidak seperti negara-negara sekutu seperti Inggris, Amerika dan Uni Soviet, Polandia sama sekali tidak mendapatkan blueprint maupun mesin produksi dari DKW RT125. Namun untungnya, hak paten desain dari DKW RT125 dibebaskan oleh sekutu membuat Polandia juga ikut membuat varian RT125 mereka sendiri yang diberi nama SHL M04 dan Sokol 125.
IFA/MZ 125
Sebelum perang, motor-motor DKW diproduksi di kota Zschopau yang setelah 1945 jatuh ketangan Soviet. Wilayah yang dikuasai Soviet ini kemudian berubah menjadi negara Jerman Timur dengan ideologi komunis yang tentu saja tidak mau menyerahkan pabrik motor DKW ini ke kapitalis. Oleh karena itu oleh pemerintah Jerman Timur, pabrik motor ini kemudian dibangkitkan lagi oleh negara guna menyerap tenaga kerja komunis dan kembali memproduksi motor-motor DKW sebelum perang termasuk RT125. Namun karena persoalan merk, motor produksi pabrik Zschopau ini tidak lagi dilabeli DKW namun menjadi IFA atau MZ 125. MZ sendiri merupakan singkatan dari Motorradwerk Zschopau yang artinya pabrik sepeda motor Zschopau.
DKW RT125W
Berhubung pabriknya berada di Jerman Timur yang komunis dan gambar rancang teknik, peralatan dan sebagainya diambil alih oleh sekutu, DKW kemudian bangkit dan memulai dari 0. Para insinyur DKW yang kabur dari wilayah yang dikuasai Soviet ke Bavaria kemudian membeli DKW RT125 untuk dibongkar dan dihitung ulang untuk diproduksi ulang disebuah gudang bekas tentara di Ingolstadt, Bavaria. Hasilnya, pada tahun 1949 DKW kembali bangkit dan memproduksi RT125 dengan RT125W dimana W ini menunjukkan makna West atau Jerman Barat.
Nantinya, DKW juga melakukan ubahan agar DKW RT125 yang pertama kali lahir pada 1930an bisa bersaing dengan motor yang lebih modern. Misalnya pada tahun 1952 diperkenalkan DKW RT125/2 yang memakai suspensi depan teleskopik meskipun bagian belakangnya masih rigid frame. Pada tahun 1954, muncul DKW RT125/H yang memakai suspensi belakang model plunger. DKW RT125/H menjadi RT125 terakhir yang diproduksi DKW pada tahun 1957. Selanjutnya motor ini juga berevolusi menjadi RT175 dan RT200 dengan mesin yang lebih besar.
Yamaha YA-1
Nippon Gakki adalah perusahaan alat musik ternama dari Jepang. Pada tahun 1955, mereka coba peruntungan dengan membuat sepeda motor. Namun karena memang tidak punya pengalaman engineering kendaraan bermotor, memproduksi motor yang desainnya sudah ada jadi ide yang bagus untuk belajar. Untungnya, sekutu telah membebaskan hak desain paten DKW RT125 seusai perang dunia kedua. Nippon Gakki kemudian menjadi Yamaha dan motor yang dikembangkan tadi menjadi sebuah Yamaha YA-1 yang menjadi motor pertama Yamaha. Di Jepang, Yamaha YA-1 punya ciri khas berupa warna merah sehingga dijuluki aka tenbo atau kecapung merah.
Spesifikasi DKW RT125 ini adalah sebagai berikut:
| Spesifikasi DKW RT125 | |
|---|---|
| Jenis | Sepeda Motor |
| Tipe | RT125 |
| Mesin | 1 silinder 2 tak 123cc |
| Bore X Stroke | N/A |
| Sistem Bahan Bakar | Karburator |
| Transmisi | Manual 3 Speed |
| Wheelbase | N/A |
| Panjang | N/A |
| Lebar | N/A |
| Tinggi | N/A |


Comments
Post a Comment