Esemka Bukan Cuma Mobilnya Pria Solo Itu
Mendengar kata Esemka, banyak orang bakal langsung mengaitkannya dengan Joko Widodo. Terlebih bagi mereka yang panasan akan berita politik, mungkin akan lebih mengatakan kalau merk mobil ini hanyalah pencitraan Joko Widodo sebelum naik menjadi gubernur DKI Jakarta dan Presiden Indonesia. Tapi benarkah begitu?
Tahun 2012, publik Indonesia dibuat semacam geger akan munculnya mobil yang dirakit oleh siswa siswi SMK dengan nama Esemka. Mobil Esemka ini menjadi semacam topik hangat terutama setelah wali kota Solo, Joko Widodo memakai Esemka Rajawali sebagai kendaraan dinasnya menggantikan Toyota Camry. Selain mobil Esemka Rajawali yang dirakit oleh SMK Negeri 2 Surakarta dan SMK Warga Surakarta, masih ada banyak lagi mobil-mobil yang dirakit oleh siswa SMK seperti Esemka Digdaya yang dirakit SMK 1 Singosari, Esemka Bima yang dirakit SMK Negeri 6 Malang, Esemka Surya yang dirakit oleh SMK Muhammadiyah 2 Borobudur bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta, sampai Esemka Patua yang dirakit SMK 2 Surabaya dan masih banyak lagi.
Esemka sendiri sebenarnya merupakan proyek fasilitas dinas pendidikan yang saat itu dipimpin oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Bambang Sudibyo pada tahun 2006. Esemka sendiri dibuat agar para siswa SMK jurusan otomotif atau teknik kendaraan ringan yang nantinya diharapkan dapat bekerja di pabrik perakitan mobil bisa memahami tentang proses assembly dan sebagainya. Produk Esemka ini tidak untuk dikomersialisasi karena memang membuat mobil bukan hanya sekedar merakit tapi juga membangun supply chain, memenuhi aturan homologasi dan kelayakan teknis, after sales dan bisnis besar lainnya yang tidak akan bisa dilakukan oleh sekolah kejuruan dan vokasional.
Esemka Tidak Cuma Mobil
Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia menawarkan keberagaman kompetensi keahlian yang luas. Cakupannya meliputi sektor teknik, teknologi informasi dan komunikasi, bisnis, seni kreatif, kesehatan, hingga pariwisata. Keragaman jurusan ini tercermin pada variasi produk program Esemka yang tidak hanya berfokus pada kendaraan, tetapi juga merambah perangkat elektronik seperti televisi dan laptop, serta alat berat seperti traktor guna menyesuaikan dengan keahlian siswa di masing-masing bidang.
Sekalian dengan itu, program Esemka ini juga menggandeng industri lokal untuk bekerja sama sebagai partner yang berpengalaman dan diharapkan bisa membagikan pengalamannya untuk bekal siswa sekolah ini turun ke dunia kerja sebenarnya. Oleh karena itu nama Esemka atau SMK dipakai berdampingan dengan merk perusahaan lokal seperti misalnya sepeda motor Esemka menggandeng perusahaan sepeda motor Kanzen menjadi Kanzen Esemka. Atau mungkin sekolah kejuruan jurusan TKJ mendapatkan beberapa unit laptop SMK Mugen dimana Mugen sendiri merupakan perusahaan lokal dengan nama Multicom Persada yang menjual laptop.
Meskipun di Indonesia sudah lama berdiri industri otomotif bahkan sudah mampu merancang mobil sendiri sesuai kebutuhan dan minat pasar seperti Toyota Kijang dari grup Astra, Suzuki Carry dari grup Indomobil dan lain sebagainya, namun industri swasta ini tidak diikutsertakan dalam program Esemka entah kenapa. Oleh karena itu untuk barang seperti mobil yang tidak ada partner dari industri besar maka digandeng perusahaan yang lebih kecil untuk transfer ilmunya.
Misalnya untuk mobil Esemka Rajawali, sejarah awalnya komponen utama seperti mesin merupakan hasil pembelajaran industri kreatif pada tahun semester 2009 dimana tidak semua komponennya dibuat dari 0 namun dilihat apakah komponen ini bisa dibuat sendiri kalau tidak baru dipakai komponen yang sudah ada dipasaran. Menurut Budi Martono, koordinator pembelajaraan Industri Kreatif dari SMKN 2 Surakarta dilansir dari GridOto1, sekitar 200 unit mesin jadi dan 19 unit dikirim ke Solo. Lantas di tahun 2011, SMK di Indonesia merakit sekitar 1.000 unit. Sekitar 200 unit diantaranya, dirakit di SMK Warga Surakarta.
Setelah perencanaan mesin selesai, sekitar 2009-2010 awal pada siswa kemudian merakit berbagai kendaraan menggunakan mesin ini seperti mejadi pickup, double cabin dan SUV. Karenanya mobil Esemka buatan sekolah ini tidak ada yang mirip dan hanya menjadi mobil one off production. Proses ini melibatkan PT Autocar Industri Komponen dari Jakarta dimana mobil-mobil tersebut dirakit oleh beberapa sekolah seperti SMK Warga Solo, SMKN 2 Surakarta, SMKN 5 Surakarta, SMKN 1 Singasari dan SMK Muhammadiyah 2 Borobudur sebagai sarana pembelajaran siswa.
Lalu di tahun 2010, dengan anggaran yang lebih besar, SMKN 2 Surakarta kemudian merakit mobil kembali kali ini menggandeng bapak Sukiyat dari bengkel Kiat Motor yang beralamat di jalan Jogja-Solo km. 4, Ngaran, Klaten. Prosesnya sendiri dilakukan manual seperti karoseri jaman dulu dengan proses keteng dan cat manual. Hasilnya kemudian dinamai Esemka Rajawali dan dipamerkan di pasar Seni Ngarsopuro dan Solo Square. Saat pameran itulah, mobil Esemka dilihat oleh Joko Widodo selaku walikota Surakarta yang kemudian memberikan dukungan moril berupa minat akan mobil Esemka buatan siswa sekolah wilayah yang dipimpinnya. Dan sebagai media darling, tindakan ini kemudian membuat nama Esemka meroket namun sayangnya pemberitaan media terlalu bombastis belum termasuk polarisasinya seperti menyebut inilah mobil nasional siap produksi massal yang membuat persepsi masyarakat demikian.
Mobil Esemka Produksi Massal
Nama Esemka yang naik daun membuat beberapa orang kemudian ingin riding the wave akan ketenaran nama Esemka ini. Salah satunya A.M. Hendropriyono yang dulu sempat menjabat sebagai menteri transmigrasi jaman orde baru dan kepala BIN kabinet Gotong Royong jaman presiden Megawati dimana kapasitasnya disini sebagai pengusaha yang membeli merk dagang Esemka. Dari sini kemudian didirikan perusahaan bernama PT Adiperkasa Citra Esemka Hero yang merupakan gabungan perusahaan PT Adiperkasa Citra Lestari dan PT Solo Manufaktur Kreasi yang mendirikan pabrik mobil di Boyolali, Jawa Tengah pada 2017.
Pabrik mobil ini kemudian memproduksi mobil dengan merk Esemka yang jauh berbeda daripada mobil buatan siswa sekolah program Esemka seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Mobil yang diproduksi ada 2 yaitu Esemka Bima 1.2 dan Esemka Bima 1.3 dimana keduanya diluncurkan pada tahun 2019 silam. Keduanya merupakan mobil white label dari Tiongkok yang dirakit di Indonesia menggunakan komponen dalam negeri. Bisa dimaklumi karena memang memproduksi mobil dari 0 adalah pekerjaan yang sangat berat dan mahal. Karenanya sekarang ini bahkan pabrikan mobil besar saling bekerja sama untuk membuat mobil yang sama yang kemudian nantinya tinggal dibedakan logonya seperti Toyota Supra dengan BMW Z4 atau Citroën Berlingo, Peugeot Partner, Opel Combo, Toyota ProAce City, dan Fiat Doblò yang semuanya kembar.
Jika dulu mobil Timor hanya ditarget penggunaan komponen lokal 20% saja pada tahun pertama itupun ternyata kandungan lokalnya tidak sampai itu yang membuatnya kalah pada gugatan WTO atas keuntungan yang tidak adil atas pengistimewaan pajak, Esemka ini sudah lebih bagus karena klaimnya tembus 60% pada awal produksinya. Beberapa perusahaan yang menyuplai komponen Esemka ini antara lain :
- ABC Bawen Karoseri - Jok
- Inkoasku - Velg
- Koperasi Batur Jaya - Drum Brake
- Nggawangga Mitra Mulia - Ferro Casting
- Pertamina - Pelumas
- Prasindo - Brake Shoes
- PT. Anugrah Berkat Cahya Abadi & PT Dana Paint Indonesia - Cat
- PT. Armada Indah Agung Glass - Kaca depan, samping, dan belakang
- PT. Bando Indonesia - Belt
- PT. Cikarang Perkasa - Blok mesin dan blok transmisi
- PT. Dasa Windu Agung - Headlining
- PT. Duta Nichrindo Pratama - Air filter
- PT. Fuller Autoparts Indonesia - Alternator assy dan starter assy
- PT. Gajah Tunggal - Ban
- PT. IMS dan PT. Santoso Cipta Dian Prima - Grill
- PT. Indospring - Per Daun
- PT. Industri Kereta Api (INKA) - Tangki BBM, chassis, bak kargo (bersama ABC Bawen)
- PT. Karya Catur Manunggal - Knalpot
- PT. Nippres Energi Otomotif - Accu
- PT. Samudera Luas Paramacitra - Per daun dan shockbreaker
- PT. Selamat Sempurna - Fuel filter dan oil filter
- PT. Tokyo Radiator Selamat Sempurna - Radiator
- PT. Usra Tampi - Dashboard dan setir kemudi
- PT. Yogya Presisi Tekuitama Industri - Emblem
- UD. Adi Surya Gemilang - Engine mounting
Namun yang lebih mind blowing lagi, total investasi yang dikucurkan untuk Esemka ini hanyalah 600 milyar rupiah saja. Dana ini semuanya datang dari swasta tanpa campur tangan negara seperti yang digembar gemborkan beberapa media tidak jelas. Kenapa hebat? sebagai perbandingan ketika Wuling yang sudah matang mulai masuk Indonesia membangun pabrik, total investasi Wuling mencapai 9,3 triliun atau 9300 milyar rupiah. Ini berarti Esemka hanya keluar sekitar 6% dari modal awal Wuling di Indonesia yang mana untuk industri otomotif nilainya terlalu kecil.
Kemana Esemka Sekarang?
Pada saat artikel ini ditulis, setidaknya mobil dengan merk Indonesia yang cukup besar dan niat jualan ada Polytron asal Kudus dimana mobilnya dirakit oleh PT Handal Motor Bekasi bekas pabrik Datsun era Haji Affan Bersaudara, Aletra yang semacam Holden asal Australia dengan General Motor asal Amerika hanya saja pada Aletra ini bersama dengan Geely dari Tiongkok dan MABI yang fokus ke kendaraan besar seperti bus.
Nama Esemka sendiri sudah cukup tenggelam. Terakhir kali Esemka membuat gebrakan adalah ketika Esemka ikut serta dalam Indonesia International Motor Show 2023. Produk yang dipamerkan saat itu selain Bima 1.3, ada juga Bima elektrik dan minibus listrik. Setelahnya, tidak ada lagi acara motor show besar di Indonesia yang diikuti oleh Esemka. Maklum saja, dengan modal yang terlalu kecil, pengalaman industri mobil yang tidak ada dimana pembuatan mobil bukan sekedar merakit saja, dan namanya yang tercoreng karena tidak bisa lepas dari sosok Joko Widodo yang kini kontroversial membuatnya terkesan mati.
Pelanggan Esemka sendiri sebenarnya ada meski sedikit mengingat modalnya juga sedikit. Misalnya saja TNI AU yang menjadikan Esemka Bima sebagai mobil untuk operasional di beberapa bandara yang dikontrol oleh TNI AU. Dengan harga yang murah, Esemka tidak bisa bersaing dengan pesaing-pesaing yang ada apalagi kelas yang dimasuki ini adalah kelas mobil niaga yang untung pabrikan cukup tipis bisa dilihat dari jarangnya pergantian model dan life cycle yang sangat panjang karena karakter konsumennya tidak terlalu demanding seperti konsumen mobil penumpang. Sebagai gambaran, Daihatsu Gran Max 1300cc dijual dengan harga mulai 160 juta unutk tipe standar sementara Esemka Bima 1.3 mulai dari 125 juta rupiah.




Comments
Post a Comment