Pabrik Mobil General Motors Tandjung Priok, Pabrik Mobil Pertama di Indonesia

PT Gaya Motor Tandjung Priok

Setelah hampir 20 tahun lamanya William C. Durrant mendirikan General Motor (GM), tiba saatnya untuk melakukan ekspansi ke benua Asia. Bukan negara jajahan besar seperti India (British Raj) atau negara industri besar seperti Kekaisaran Jepang namun GM memilih untuk mendirikan pabriknya yang pertama di daerah Ancol, Jakarta (Batavia) yang saat itu masih berada dibawah pengaruh Belanda dengan nama Dutch East Indies atau Hindia Belanda.

Pada mulanya, Singapura yang pertama kali dipilih GM untuk memulai operasinya di Asia. Sayangnya, pemerintah Singapura setempat yang enggan untuk mengizinkan kegiatan industri di lokasi tertentu mendorong para delegasi GM yang mencari tempat lain untuk pindah dan akhirnya wilayah Jawa yang dikelola Belanda yang dipilih. Dengan kapal S.S. President Cleveland, 39 orang wakil GM yang berangkat dari San Francisco pada 2 Oktober 1926 ini kemudian berlabuh di pulau Jawa meski beberapa anggota kelompok kemudian berpisah menuju Jepang dan mendarat di Yokohama serta Hong Kong.

Setelah tahun baru 1927, tidak berselang lama kelompok ini kemudian memilih sebidang tanah di daerah pelabuhan Tanjung Priok dekat Batavia untuk mendirikan pabrik perakitan mobil yang produk-produknya dijual dan diekspor keseluruh penjuru Hindia Belanda, Malaya (Malaysia), Indochina (Vietnam, Laos dan Kamboja) dan Siam (Thailand). Pabrik ini dimiliki oleh perusahaan otomotif cabang GM pertama di Asia, N.V. General Motors Java Handel Maatschappij yang dibentuk pada 3 Februari 1927. Operasional perusahaan dimulai pada Januari 1927 dan pabrik mobilnya sendiri baru mulai produsi tanggal 9 Mei 1927 dimana sebuat truk GM yang meningggalkan assembly line sekitar 2 minggu kemudian. Secara resmi, pabrik ini baru dibuka tanggal 17 Mei 1927. Pabrik perakitan mobil yang dibangun oleh GM ini merupakan salah satu pabrik terbesar di Indonesia sebelum kemerdekaan pada tahun 1945 dan menjadi salah satu contoh pelopor industrialisasi Indonesia era 1930an. Sebagai pelopor industrialisasi, pabrik ini juga akhirnya mempengarhi pendirian pabrik lain seperti ketika berdirinya perusahaan negara, NV Indonesia Service Company (ISC) yang memproduksi mobil-mobil dari beragam merk seperti Jeep, Dodge, BMW, Ford, Fiat, dan Chrysler.

Produk apa sajakah yang diproduksi pabrik pertama GM ini? menurut majalah GM World edisi Desember 1939 memperlihatkan Chevrolet dan Vauxhall 10 yang dimodifikasi pabrik menjadi sebuah phaeton untuk model tahun 1939. Selain itu juga terdapat Opel 1300cc phaeton tahun 1939 yang diproduksi pabrik ini. Domestifikasi mobil juga sudah terjadi pada era ini dimana mobil GM IndoDM atau mobil dengan spesifikasi khusus pasar Indonesia sudah ada. Contohnya Vauxhall 10 tadi dimana pintu depannya lebih kecil sedikit karena dipotong pabriknya atau Chevrolet phaeton yang atapnya lebih landai dan sasisnya ayng diberi penguat berlebih.

Kejayaan pabrik ini berakhir pada 9 Maret 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia dimana banyak personel GM yang melarikan diri ke Australia. Sayangnya direktur pelaksana dan beberapa staff Belanda dan Inggris ditangkap tentara Jepang dan dijadikan tawanan perang. Pabrik ini kemudian berhenti beroperasi pada tanggal 24 Maret 1942. Total sebanyak 32 staff termasuk 6 eksekutif senior GM ditangkap dan dibawa ke kamp konsentrasi Jepang yang sebar di Filipina dan Jawa. Sebelumnya, ketika Amerika Serikat menyatakan perang pada tanggal 8 Desember 1941, seluruh inventaris perusahaan seperti truk, peralatan, dan mesin-mesin dipindahkan untuk disembunyikan di daerah sekitar Solo, Jawa Tengah. Atas perintah Angkatan Darat Amerika, barang-barang yang tidak sempat diselamatkan akhirnya dihancurkan. Mesin produksi dan Peralatan pabrik lainnya tersisa kemudian direbut untuk dijadikan pabrik persenjataan dan mobil perang Toyota selama penjajahan Jepang. Setelah Jepang pergi pada 1946, perusahaan ini dibuka kembali bukan sebagai pabrikan mobil melainkan hanya sebagai ATPM penjual mobil GM cabang Batavia.

Setelah perang revolusi berakhir dan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 1949, cabang Batavia tadi berubah menjadi cabang Djakarta dari GM Overseas Corp sebagai NV General Motors Java Handel Mij untuk melindungi aset-asetnya sebelum perang. Selama 7 tahun keberadaannya (1946-1953), Cabang Djakarta memproduksi dan mendistribusikan sebanyak 5.306 unit mobil penumpang, 14.050 unit mobil niaga, 3.811 truk, dan 202 mesin diesel untuk kapal/kebutuhan kelautan. Cabang Jakarta ini memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia dengan mempekerjakan rata-rata 1.012 warga negara Indonesia di pabrik dan kantornya serta membantu membangun 41 dealer dengan 3.500 karyawan dan mendorong terciptanya berbagai macam bengkel dan SPBU.

Namun sayang, karena beberapa hal para pemegang saham perusahaan kemudian memilih untuk melikuidasi perusahaan pada 14 April 1956 dan penjualan di wilayah tersebut dikelola oleh distributor asing. Rumah tinggal manajer umum dan beberapa rumah lainnya yang dimiliki GM kemudian dibeli oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat. Setahun sebelumnya, aset-aset produksi otomotif pabrik ini dijual ke sebuah perusahaan lokal bernama PN Gaja Motor. Salah satu alasan kenapa aset-aset produksi pabrik ini dijual adalah karena resesi ekonomi yang membuat impor perlengkapan CKD untuk membuat mobil sulit sehingga perlengkapan CKD yang bisa diimpor jauh lebih sedikit dari kebutuhan.

Kini pabrik ini menjadi PT Gaya Motor yang sebelumnya setengahnya dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 1998, kepemilikian pabrik ini kemudian berubah menjadi milik PT Astra Daihatsu Motor yang merakit mobil-mobil Daihatsu, Toyota dan BMW di Indonesia selain juga beberapa merk lain seperti Geely dan Proton.

Bersambung ke Jejak Merk General Motor di Indonesia.

Fourie, Louis F. 2016. On a Global Mission: The Automobiles of General Motors International Volume 3. FriesenPress. ISBN 9781460296905.

Bowman, Bill. General motors Asia-Pacific Saga. http://history.gmheritagecenter.com/wiki/index.php/General_Motors'_Asia-Pacific_Saga.  diakses Oktober 2018.

Comments