Volkswagen Typ 182 VW Safari / Camat
Pada tahun 60an, militer Jerman Barat, Italia dan Perancis menginginkan mobil jip kecil yang tangguh, lincah dan memiliki performa mumpuni. Ide ini kemudian diwujudkan menjadi "Europa Jeep" yang sayangnya proyeknya terus tertunda karena masalah teknis sampai biaya yang membengkak. Sebelumnya, memang sudah ada kendaraan 4x4 yang kompeten seperti Land Rover, Fiat Compagnola bahkan DKW Munga. Pihak Jerman tidak mau Land Rover atau Fiat karena kebijakan untuk mendahulukan produk dalam negeri sementara DKW Munga sudah terlalu tua. Oleh karena itu melihat catatan kebelakang, Jerman sebenarnya sudah punya mobil yang cukup cocok sebagai stop gap pada perang dunia kedua yang kemudian rancangannya dikembangkan menjadi VW Safari.
Dikembangkan dari Kübelwagen yang merupakan kendaraan taktis ringan militer Nazi Jerman dalam perang dunia kedua, mobil off road baru ini kemudian menjadi Volkswagen Typ 181 untuk setir kiri dan Volkswagen Typ 182 untuk setir kanan. Sama seperti VW Kodok yang awalnya bernama Volkswagen Typ 1, namun karena berbagai pengaruh budaya tempat dimana mobil tersebut dijual akhirnya mendapatkan banyak nama seperti Beetle, Fusca, Vocho, Kodok dan lain sebagainya. VW Typ 182 di Indonesia dijual sebagai Volkswagen Safari seperti di Amerika Latin namun mendapat julukan lokal berupa VW Camat.
Rancang bangun VW Safari kurang lebihnya menyontek Kubelwagen hanya saja dimodernisasi dengan komponen Volkswagen yang lebih baru saat itu seperti mengambil sedikit banyak komponen dari VW Kodok dengan berbagai perbedaan. Floorpan atau lantai dan rangka mobil ini mengambil milik VW Karmann Ghia yang lebih lebar dibanding VW Kodok. As gardan belakangnya memakai milik VW Transporter model swing axle lalu pada tahun 1973 diubah rancangannya menjadi seperti milik Porsche model double jointed axles yang dilengkapi dengan constant velocity joints. Untuk bagian depannya sendiri masih sama dengan as gardan VW Kodok hanya saja as ini diperkuat lagi agar bisa melewati medan jelek.
Untuk desainnya sendiri, Volkswagen membuatnya tampil sederhana yang mana sebagai kendaraan yang awalnya sementara diciptakan untuk kebutuhan militer namun juga bisa dipakai sipil. Bodi serba kotak yang mempermudah proses produksi yang berarti juga membuat ongkos produksinya murah. Desain awalnya berupa mobil dengan atap terbuka yang rangka kaca depannya bisa ditekuk seperti mobil-mobil jip lain dijaman itu dan dilengkapi dengan 4 pintu seperti mobil sedan. Untuk melindungi penumpang dari elemen, terdapat atap canvas top dan atau pilihan atap hard top yang terbuat dari resin sebagai opsional.
Sama seperti mobil Volkswagen jaman itu yang menggunakan mesin pendingin udara dan diletakkan dibelakang, VW Safari juga punya konfigurasi yang mirip. Mesin dengan konfigurasi flat 4 silinder OHV pendingin udara berkapasitas 1584cc. Mesin dengan karburator dan kompresi 6,6:1 ini sanggup menghasilkan tenaga sebesar 53Hp pada 4200Rpm dan torsi 72,6Nm pada 2500Rpm. Untuk menggerakkan roda belakang, digunakan transmisi manual 4 percepatan.
VW Safari Jerman dan Safari Meksiko
Pertama kali diluncurkan pada tahun 1968, VW Safari pada awalnya hanya diproduksi untuk kebutuhan militer saja. Namun kemudian pada tahun 1971 muncul VW Safari yang dijual untuk masyarakat umum dengan sedikit ubahan dibandingkan versi militernya. Di Indonesia sendiri VW Safari mulai dijual sejak 1972 dan sudah diproduksi di Indonesia melalui fasilitas perakitan PT German Motor Manufacturing Indonesia di Jakarta secara CKD.
Model awal dari VW Safari ini biasa dikenal sebagai Safari Jerman. Ciri khasnya adlaah lampu sein depan yang terletak diatas fender ukurannya kecil. Bagian yang paling terlihat ada pada bagian belakang dimana lampunya kecil dan datar yang diletakkan dibawah dekat bumper. Lampu ini mirip seperti yang dipakai oleh VW Kombi dakota. Sirip lubang untuk jalur masuk udara juga rata. Dibagian mekanikal, VW Safari Jerman dilengkapi dengan reduction gear yang dipakai untuk keluar dari jalan jelek seperti kubangan lumpur dimana torsi mesin langsung disalurkan ke roda sehingga mobil bisa loncat kodok.
Sekitar tahun 1975, muncul model facelift yang dikenal sebagai Safari Mexico atau Meksiko. Dinamakan begitu karena memang model ini dikembangkan di Meksiko yang kemudian masih lanjut memproduksi VW mesin air cooled sampai 2003. Ciri khasnya adalah adanya tepong atau tonjolan di sekitar bagian belakang tempat air scoop untuk mesin. Selain itu lampu sein depannya menjadi lebih besar. Untuk bagian belakang, ciri khas paling menonjol ada pada lampu belakang yang lebih besar dan diletakkan lebih keatas dimana bentuknya lebih mirip seperti VW kodok.
Untuk bagian atapnya sendiri, sebenarnya selain varian canvas top juga ada varian hardtop yang terbuat dari fiberglass. Biasanya, warna atapnya berbeda dengan warna body untuk mempercantik mobilnya. Atap hardtop ini dijual resmi oleh Volkswagen meski kebanyakan merupakan opsional dealer yang cukup populer untuk pengguna VW Safari yang menginginkan untuk memasang AC pada mobilnya.
Kenapa Disebut VW Camat?
Memasuki tahun 1977, pemerintah orde baru menyelenggarakan pemilu sebagai asas demokrasi di Indonesia meskipun dibawah kediktatoran Suharto semua orang juga sudah tahu kalau pemilu ini hanyalah formalitas belaka karena sudah diketahui pemenangnya. Namun setidaknya, untuk memastikan jalannya pemilu dengan lancar pemerintah orde baru kemudian membagikan sejumlah VW Safari selain juga Mitsubishi Colt T120 untuk memastikan kelancaran jalannya pemilu kepada para camat sebagai agen pemilu.
VW Safari yang digunakan untuk keperluan pemilu ini merupakan VW Safari Meksiko dengan warna oranye dan atap soft top. Warna kanvas atapnya juga oranye sedikit lebih gelap yang serasi dengan warna bodinya. Setelah selesai jalannya pemilu, seharusnya mobil-mobil ini kembalikan kepada pemerintah pusat namun kemudian malah terus-terusan digunakan. Oleh karena itu VW Safari yang banyak dipakai para camat berkeliling desa-desa ini mendapat julukan sebagai VW Camat.
Kelebihan VW Safari ini adalah bentuknya yang unik karena cabriolet 4 pintu dengan atap soft top. Jika dibandingkan dengan VW Kodok, mobil ini jelas lebih nyaman, kuat karena banyaknya reinforcement serta lebih praktis karena 4 pintu. Bentuknya yang kotak serta sasis yang lebih besar dari VW Kodok juga membuat daya angkutnya lebih luas jika dibandingkan Beetle. Selain itu, kaca depan yang bisa direbahkan serta body yang kokoh menjadi keunikan tersendiri untuk mobil ini.
Kelemahan utama mobil ini mungkin ada pada atapnya. Bukan kenapa-kenapa, tapi kadang kalau nyetirin mobil ini dengan atap terbuka tidak jarang ada polisi iseng menilang dengan alasan pengemudi tidak memakai helm. Menurut polisi, ada yang bilang mobil tanpa atap harus pakai helm sementara ada juga yang mengatakan kalau tidak perlu memakai helm atau jika hanya terdapat roll bar.
Spesifikasi Volkswagen 182 (VW Camat / Safari) ini adalah sebagai berikut:| Spesifikasi Volkswagen 182 (VW Camat / Safari) | |
|---|---|
| Jenis | Jip |
| Tipe | Typ 181 (182) |
| Mesin | Air cooled Boxer 4 1584cc |
| Bore X Stroke | 85.5 X 69.0 mm (1600cc) |
| Sistem Bahan Bakar | Karburator |
| Transmisi | Manual 4 Speed |
| Wheelbase | 2.400 mm |
| Panjang | 3.780 mm |
| Lebar | 1.640 mm |
| Tinggi | 1.620 mm |



Kalo polisi Magelang banyak yang iseng nggak ya? Hehe...
ReplyDeleteiseng sih kadang-kadang aja...
Deletetapi sering... hahahaha
kalau mau coba naik ini, di Bali masih banyak dipakai buat mobil rental seputar Kuta-Legian
ReplyDeletebaru tau, kalau liburan ke Bali lagi asyik kayaknya keliling pake ginian...
Delete